PDI Perjuangan Ungkap Alasan Walk Out saat Penyampaian KUA-PPAS APBD Kukar 2027
Anggota DPRD Kukar dari Fraksi PDI Perjuangan, Rahmad Dermawan.
POSKOTAKALTIMNEWS,
KUKAR : Langkah Seluruh anggota Fraksi PDI
Perjuangan memilih meninggalkan Ruang Sidang Utama DPRD Kutai Kartanegara
(Kukar) saat penyampaian KUA-PPAS APBD 2027, Selasa (28/7/2026) kemarin, bukan
tanpa alasan.
Di balik aksi walk
out tersebut, fraksi berlambang banteng itu menilai masih ada sejumlah program
dalam visi-misi Kukar Idaman Terbaik yang perlu diperdalam, terlebih di tengah
menyusutnya kemampuan anggaran daerah.
Anggota DPRD Kukar
dari Fraksi PDI Perjuangan, Rahmad Dermawan mengatakan, sikap yang diambil saat
rapat paripurna tersebut lahir dari inisiatif anggota fraksi sebagai bagian
dari tanggung jawab dalam mengawal kebijakan pemerintah daerah.
“Teman-teman merasa
bahwa mereka adalah bagian dari Kukar Idaman Terbaik, sehingga ada hal-hal yang
perlu diperdalam lagi berkenaan dengan visi dan misi Kukar Idaman Terbaik,”
ujarnya saat di hubungi pada Rabu (29/7/2026).
Rahmad juga
meluruskan spekulasi mengenai pihak yang berada di balik aksi walk out. Ia
memastikan langkah tersebut bukan instruksi dari jajaran pimpinan PDI
Perjuangan maupun Ketua DPC PDI
Perjuangan.
“Jadi tidak ada
kaitannya dengan perintah Wakil Bupati atau Ketua DPC kami. Inisiatif ini
memang hadir dan lahir dari teman-teman anggota fraksi,” tegasnya.
Salah satu yang
menjadi perhatian Fraksi PDI Perjuangan adalah sektor pendidikan.
Pelaksanaan program
seragam sekolah gratis dinilai masih menyisakan persoalan pada sisi teknis dan
ketepatan waktu.
“Misalnya tahun
ajaran sudah berjalan, tetapi baju seragamnya belum ada. Itu salah satu
contohnya,” ungkapnya.
Evaluasi terhadap
pelaksanaan program itu nantinya diharapkan dapat membuat bantuan seragam
diterima sesuai kebutuhan siswa, terutama ketika memasuki tahun ajaran baru.
“Nanti kita akan coba
perbaiki lagi di sana, supaya dari sisi waktu dan timing-nya kita perketat lagi
agar sesuai dengan jadwal,” kata dia.
Perhatian fraksi
tidak hanya tertuju pada sektor pendidikan. Sejumlah program unggulan lainnya
juga akan dicermati untuk menentukan bagaimana pelaksanaannya dapat
dipertahankan dengan kemampuan fiskal yang tersedia.
“Kemudian ada
program-program unggulan kita, mulai dari berobat gratis, RTKu Terbaik, dan
lain sebagainya yang memang harus kita perkuat dengan menyesuaikan kondisi
anggaran hari ini,” jelasnya.
Persoalan kemampuan
keuangan daerah menjadi salah satu pertimbangan utama.
Menurutnya,
penyusutan anggaran membuat pemerintah bersama DPRD harus kembali melihat
program yang menjadi prioritas tanpa meninggalkan tujuan Kukar Idaman Terbaik.
“Karena anggaran kita
sekarang sedang mengalami penyusutan dan pengurangan yang begitu besar.
Sehingga ada bagian-bagian yang harus kita sesuaikan kembali dengan cita-cita
kita dalam mewujudkan Kukar Idaman Terbaik,” ucapnya.
Di sisi lain,
ekspektasi masyarakat terhadap pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Kukar
dinilai tetap tinggi.
Kondisi itu membuat
Fraksi PDI Perjuangan memandang perlunya keseimbangan antara program yang
dijanjikan dengan kemampuan anggaran untuk merealisasikannya.
“Karena kami tidak
ingin Bupati dan Wakil Bupati nanti, dalam tanda kutip, terjerumus pada
janji-janji politik semata. Jangan sampai seperti itu,” tegasnya.
Karena itu, aksi walk
out tersebut ditempatkan sebagai bagian dari kontrol fraksi terhadap proses
penyusunan kebijakan anggaran.
Ia menyebut masih ada
beberapa hal yang ingin dikoreksi maupun dipelajari lebih mendalam sebelum
kebijakan tersebut berlanjut ke tahapan berikutnya.
“Rasa sayang dan
cinta kami terhadap pemerintah salah satunya diwujudkan melalui bentuk kontrol
tadi. Kami ingin mengoreksi beberapa hal dan memperdalamnya,” tuturnya.
Rahmad juga merespons
munculnya penilaian bahwa sikap Fraksi PDI Perjuangan berkaitan dengan
konstelasi politik tertentu.
Berbagai penafsiran
yang muncul setelah walk out dinilainya sebagai bagian dari dinamika di lembaga
legislatif.
“Kalau hari ini ada
pihak-pihak lain yang merasa bahwa ada konstelasi politik dan lain sebagainya,
saya pikir itu biasa saja. Namanya juga kita berdinamika di DPR, apalagi ketika
berbicara anggaran yang selalu dikaitkan dengan hal-hal tersebut,” jelasnya.
Bagi Fraksi PDI
Perjuangan, pendalaman terhadap kebijakan anggaran diarahkan agar visi dan misi
kepala daerah tetap dapat diterjemahkan menjadi program yang manfaatnya sampai
kepada masyarakat.
“Pada prinsipnya, ini
merupakan bentuk rasa sayang kami terhadap pemerintah dan masyarakat Kutai
Kartanegara,” pungkasnya. (Kriz)